Pages

Diberdayakan oleh Blogger.

Sabtu, 09 Maret 2013

Teknik Wawancara Jurnalistik

Teknik Wawancara Jurnalistik

Wawancara adalah tanya jawab untuk memperoleh informasi atau keterangan akan suatu hal. Dan wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang diperoleh secara langsung antara pewawancara dengan narasumber.Sebagai sebuah data, informasi yang diperoleh dari hasil wawancara harus diubah menjadi laporan tertulis.Laporan tertulis hasil wawancara berupa laporan tulisan jurnalistik (berita) atau data dalam bentuk ringkasan.

Dalam wawancara, wartawan bertanya kepada narasumber, (saksi, pengamat, pihak berwenang, dan sebagainya) untuk menggali atau mengumpulkan informasi, keterangan, fakta, atau data tentang sebuah peristiwa atau masalah. Dan hasil wawancara disusun dalam bentuk karya jurnalistik –berita, feature, atau artikel opini.

Ø Model Wawancara


Model wawancara ada dua macam di antaranya:

1. Wawancara langsung –bertatap muka (face to face) langsung dengan narasumber.

2. Wawancara tidak langsung –misalnya melalui telefon, chating, dan email (wawancara tertulis).

Ø Jenis-JenisWawancara

Dalam literatur jurnalistik dikenal banyak jenis wawancara, antara lain:

1. Wawancara berita (news-peg interview), yaitu wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi, atau pandangan intervieweetentang suatu masalah atau peristiwa.

2. Wawancara pribadi (personal interview), yaitu wawancara untuk memperoleh data tentang diri-pribadi dan pemikiran narasumber –disebut juga wawancara biografi.

3. Wawancara eksklusif (exclusive interview), yaitu wawancara yang dilakukan secara khusus –tidak bersama wartawan dari media lain.

4. Wawancara sambil lalu (casual interview), yaitu wawancara “secara kebetulan”, tidak ada perjanjian dulu dengan narasumber, misalnya mewawacarai seorang pejabat sebelum, setelah, atau di tengah berlangsungnya sebuah acara.

5. Wawancara jalanan (man-in-the street interview) –disebut pula “wawancara on the spot”–  yaitu wawancara di tempat kejadian dengan berbagai narasumber, misalnya di lokasi kebakaran.

6. Wawancara tertulis –dilakukan via email atau bentuk komunikasi tertulis lainnya.

7. Wawancara  “cegat pintu” (door stop interview), yaitu wawancara dengan cara “mencegat” narasumber di sebuah tempat, misal tersangka korupsi yang baru keluar dari ruang interogasi KPK.

Ø Teknik-Teknik Wawancara

Para praktisi jurnalisme (wartawan) umumnya sependapat, tidak ada kiat mutlak wawancara jurnalistik.  Setiap wartawan emiliki trik atau cara tersendiri guna menemui dan memancing narasumber untuk berbicara.

· Namun demikian, secara umum teknik wawancara meliputi tiga tahap, yaitu:

1. Persiapan

2. Pelaksanaan

3. Pasca-Wawancara

Ø Tahap Persiapan Wawancara

1. Menentukan topik atau masalah

2. Memahami masalah yang ditanyakan – wawancara yang baik tidak berangkat dengan kepala kosong.

3. Menyiapkan pertanyaan.

4. Menentukan narasumber

5. Membuat janji –menghubungi narasumber atau “mengintai” narasumber agar bisa ditemui.

Ø Pelaksanaan Wawancara

1. Datang tepat waktu –jika ada kesepakatan dengan narasumber.

2. Perhatikan penampilan –sopan, rapi, atau sesuaikan dengan suasana.

3. Kenalkan diri –jika perlu tunjukkan ID/Press Card.

4. Kemukakan maksud kedatangan –sekadar “basa-basi” dan menciptakan keakraban.

5. Awali dengan menanyakan biodata narasumber, terutama nama (nama lengkap dan nama panggilan jika ada). Bila perlu, minta narasumber menuliskan namanya  sendiri agar tidak terjadi kesalahan.

6. Pertanyaan  tidak   bersifat   “interogatif “ atau terkesan memojokkan.

7. Catat! Jangan terlalu mengandalkan recorder.

8. Ajukan pertanyaan secara ringkas.

9. Hindari pertanyaan “yes-no question” –pertanyaan yang hanya butuh jawaban “ya” dan “tidak”.Gunakan “mengapa” (why), bukan “apakah” (do you/are you). Jawaban atas pertanyaan “Mengapa Anda mundur?” tentu akan lebih panjang ketimbang pertanyaan “Apakah Anda mundur?”.

10. Hindari pertanyaan ganda! Satu pertanyaan buat satu masalah.

11. Jadilah pendengar yang baik.Ingat, tugas wartawan menggali informasi, bukan “menggurui” narasumber, apalagi ingin “unjuk gigi” ingin terkesan lebih pintar atau lebih paham dari narasumber.

Ø Merangkum Isi Pembicaraan dalam Wawancara

A. Menyusun Rangkuman Hasil Wawancara

Rangkuman adalah penyajian singkat dari suatu pembicaraan atau tulisan. Adapaun langkah-langkah untuk membuat rangkuman hasil wawancara, antara lain:

1. Menyimak seluruh pembicaraan dalam wawancara

2. Mencatat pokok-pokok pembicaraan

3. Merangkaikan pokok-pokok pembicaraan ke dalam beberapa paragraph dengan memerhatikan keefektifan kalimat-kalimatnya.

Selain langkah-langkah, Anda juga harus memerhatikan hal-hal penting dalam membuat rangkuman, diantaranya adalah:

1. Menggunakan kalimat efektif.

2. Jumlah paragraf dalam rangkuman tergantung pada banyaknya pertanyaan dan jawaban kegiatan wawancara.

3. Mempertahankan susunan topik pembicaraan.

Beberapa hal yang dapat dijadikan panduan untuk mengikuti wawancara, yaitu:

1. Mengidentifikasi topik wawancara

2. Memusatkan perhatian

3. Memerhatikan intonasi, mimik, dan bahasa tubuh kedua belah pihak yang terlibat dalam wawancara

4. Menentukan inti dari setiap pertanyaan

5. Menentukan inti dari setiap jawaban

6. Merangkum inti pertanyaan dan jawaban sebuah simpulan wawancara

B. Menjelaskan Hasil Wawancara tentang Tanggapan Narasumber

Untuk mngetahui isi wawancara dapat dilakukan dengan cara menyimak dan mencatat isi pokok pembicaraan dalam wawancara. Cara mencatat isi pokok pembicaraan dalam wawancara sebagai berikut:

1. Menyimak wawancara dengan seksama dari awal hingga akhir

2. Mencatat orang yang melakukan wawancara, baik pewawancara maupun narasumber

3. Mencatat isi pokok pembicaraan dalam wawancara, sebagai berikut:

a. Apa yang dibicarakan atau masalah yang dibahas dalam wawancara

b.Tanggapan atau pendapat narasumber: berupa pendapat tentang penyebab masalah dan penanggulangan masalah yang diabahas dalam wawancara.

sumber: Wawancara Jurnalistik

0 komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About